Aku ingin Berhaji bersama Ayah Bunda

Aku ingin Berhaji bersama Ayah Bunda. Pergi haji di usia 35 tahun (1961) bersama ibundanya tercinta. Ayahnya sudah haji terlebih dahulu. Ketika ditanya, kok haji bersama ibunda, tidak bersama istrinya? Ayah menjawab : Dana yang tersedia cukup untuk 2 orang. Tuntunan agama menganjurkan lebih mendahulukan ibu dari istri jika dana tidak mencukupi.

Ibu menikah dengan ayah pada usia 17 tahun. Ibu adalah salah satu murid di Sekolah tempat ayah mengajar. Rupanya, dalam penilaian ayah, ibu adalah pilihan yang cocok untuk mendampinginya sebagai istri. Hampir bersamaan pada tahun itu ada 4 guru lain yang juga meminang muridnya.

Ayah cukup lama menjadi guru di Sekolah Al Irsyad (sekitar tahun 1950 – 1970). Beberapa tahun mengajar di SD, sebagai guru agama. Kemudian mengajar di SMP sebagai guru bahasa Inggris, juga mengajar di tingkat Aliyah/SMA sebagai guru agama. Uniknya, belasan tahun mengajar tidak pernah meminta gaji. Untuk memenuhi ekonomi keluarga, ayah berwiraswasta, sebagai pengusaha batik dan sarung palekat. Usaha batik & sarung palekat berkembang dan mendapat sambutan cukup bagus. Usaha ini dijalankan bersama adiknya (Ibrahim) sampai akhirnya menghentikan usahanya pada usia senja (tahun 1995).

Sebagai pendidik, ayah sadar betul bahwa saat itu menjadi seorang guru belum mampu mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Tapi, panggilan sebagai pendidik cukup besar. Untuk itulah, idealisme sebagai pendidik disalurkannya dengan menjadi guru, namun untuk menghidupi diri dan keluarganya, ayah berbisnis. Dan ternyata, dua profesi yang dijalankannya secara bersamaan tersebut berjalan tanpa banyak hambatan.

Sebagai seorang ayah, dalam mendidik dan mengembangkan wawasan, beliau sangat memperhatikan pembinaan mental spiritual anak-anaknya. Di antaranya dengan memberikan cerita-cerita menarik yang sering disampaikan kepada anak-anaknya. Cerita tentang perjalanan hidupnya, cerita tentang sejarah Rasul saw. dan sahabat, cerita tentang orang-orang besar, cerita tentang orang-orang sukses, cerita tentang pentingnya menjaga akhlak, menjaga aqidah, menjalankan ibadah, hidup disiplin, dan cerita-cerita yang berkaitan dengan motivasi.

Prinsip-prinsip hidup yang berpegang pada kebenaran, selalu diutamakan. Ayah mengajarkan kepada kami, bahwa harga mempertahankan kebenaran di tengah masyarakat yang sangat pragmatis, cukup mahal. Bisa jadi, dalam rangka mempertahankan kebenaran tersebut harus dibayar dengan isolasi sebagian masyarakat di lingkungannya. Harus menghadapi penguasa yang terus menekan. Harus menghadapi teror dan fitnah. Harus masuk penjara selama 9 bulan. Untuk memberi semangat kepada keluarganya, ayah selalu berpesan, “Jika sebagian manusia membenci, tidak apa-apa, asal jangan Allah yang membencinya. Kalau dipecat oleh organisasi tidak apa-apa, asal jangan Allah yang memecatnya.”

Bagi ayah, anak kandung dan anak menantu sama saja, karena sudah menjadi anggota keluarga inti. Bahkan anak menantu mendapat perlakuan yang sama dengan anak kandungnya. Kesaksian seorang menantunya,  akan memberi gambaran tentang hal itu.  Travel Umroh Bogor

“Di masa awal-awal tahun kami berumah tangga, kami merasa sepertinya ayahanda memperlakukan kami benar-benar seperti putra kandungnya sendiri. Hampir-hampir tidak ada sekat yang menghalangi interaksi antara kami dengan ayahanda.

Kami sangat bebas di dalam menyampaikan pandapat, begitu pula nasihat-nasihat beliau kepada kami. Beliau memperlakukan anak menantunya bagai anak sendiri.

Nasihat atau teguran-teguran beliau selalu disampaikan dengan bijak dan lengkap dengan dalil-dalil yang syar’i. Di samping itu, seringkali ayahanda menyampaikan nasihat-nasihat atas dasar ungkapan kata-kata bijak dari tokoh-tokoh dunia.  Segala puji Bagi Allah. Akhirnya aku bisa Berhaji bersama Ayah Bunda