Ayah Aku Bangga Padamu

Ayah Aku Bangga Padamu, Begitu kenang ku. Ketika remaja ayah gemar berolahraga. Bulu tangkis dan sepak bola menjadi kegemarannya, sejak tahun empat puluhan sampai tahun lima puluhan bergabung dalam klub sepak bola “Al-Hilal” Pekalongan. Ia banyak ikut bertanding ke berbagai kota di Indonesia, kesejumlah kota di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur. Pernah juga bermain di lapangan Ikada di Jakarta sampai Medan, Sumatra Utara.

Sejak usia muda, ayah senang berorganisasi. Ketika usia pelajar sudah aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia), kemudian GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia). Ayah  aktif di Al Irsyad, sebagai Ketua Cabang Al Irsyad Pekalongan, Ketua Parmusi (Partai Muslimin Indonesia), Pengurus PPP (Partai Persatuan Pembangunan) dan Anggota DPRD Pekalongan selama 3 periode (1971-1987).

Jiwa berorganisasi itu diturunkan kepada anak-anaknya. Ayah  mendorong anak-anaknya aktif di organisasi. Sekitar tahun 1967, organisasi Pelajar Al Irsyad Pekalongan, menyelenggarakan acara perkaderan yang diselenggarakan setiap hari ahad. Anak-anaknya ditanya (pada saat itu usia SMP), apakah ikut kegiatan perkaderan? Ayah akan marah besar seandainya jawabannya tidak!

Bisa jadi, sebagai orang pergerakan, bergaul dengan banyak orang dan beragam karakter, telah menempanya sebagai pribadi yang tangguh dan gigih. Ia memegang amanah dengan apa yang telah diberikan umat kepadanya. Ujian dan cobaan hidup disikapinya dengan  istikomah. Tatkala prahara fitnah menerpanya, ia pun tetap tegar, sabar, dan gigih dalam mempertahankan apa yang telah diyakini kebenarannya. Dengan modal  seperti itu, maka fitnah yang menimpanya lambat laun menjauh, dan kebenaran mengemuka. Para pemfitnahnya pun, akhirnya, satu per satu meminta maaf padanya. Dan ia adalah seorang yang pemaaf.

Bahkan, ketika salah seorang yang pernah memfitnahnya mendapat “ancaman” dari para muridnya, ayah adalah orang yang paling depan menjamin agar yang bersangkutan jangan disentuh. Bagaimana orang yang telah difitnah malah pasang badan agar pemfitnah tidak mendapat gangguan? Sebuah kesabaran yang tidak akan muncul secara tiba-tiba, tapi lewat berbagai perjalanan dalam beraktifitas di medan dakwah.