Ayah, Aku ingin Pergi Umroh Bersama Mu

Ayah, aku ingin pergi umroh bersama mu.  Begitulah mimpi yang tidak akan pernah bisa jadi kenyataan. Ayah ku lahir di Pekalongan, Jawa Tengah,  21 Oktober 1926. Anak ke 3 dari 11 bersaudara dari pasangan Salim Basyarahil (asal Ambon) dan Syaichah Basyarahil (Sumbawa).  Pernikahannya dengan Lutfiah Basalamah (Pekalongan) membuahkan 1 putra dan 3 putri, 18 cucu serta 3 cicit.

Pendidikan dasar dan menengah ditempuhnya di kota santri Pekalongan. Sekolah  Dasar di Al Irsyad dan melanjutkan ke SMP Negeri Pekalongan. Setelah tamat dari SMP, ayah melanjutkan pendidikannya ke SMA BES (Batavia English School) di Jakarta. Usai menamatkan pendidikannya di BES, ayah kembali ke Pekalongan dan mengajar di Al Irsyad Pekalongan serta berwiraswasta di bidang tekstil (Batik dan Sarung Palekat) sampai usia 75 tahun.

Ayah adalah figur ulama khas Al Irsyad, menguasai bahasa Arab, berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah (Salaf), tidak terikat pada satu mazhab, tegas, komprehensif dan mengikuti perkembangan (hallaf). Pembawaannya kalem, tapi tegas dalam berpendirian. Ia mengasihi dan membesarkan anak-anaknya secara adil, tidak pilih-pilih, tak ada pilih-kasih dalam kamus hidupnya. Ia adalah seorang pendakwah, baik secara lisan maupun tulisan, dan selalu berusaha melaksanakan satunya ucapan dengan perbuatannya.  Travel Umroh Jakarta

Tutur katanya penuh hikmah dan berbobot. Ilmu agamanya luas, tidak hanya terfokus pada satu bidang kajian saja. Penjelasan-penjelasannya pun selalu komprehensif, merujuk kepada berbagai  kitab yang menjelaskan suatu persoalan tertentu.  Dalam soal akidah, tak ada kompromi. Karena itu, baik dalam pengajaran maupun aktivitasnya, ia jauh dari hal-hal yang berbau bid’ah.

Meski sebagai anak nomer tiga, ayah adalah salah satu sosok yang dituakan. Ketika ayahnya (Salim Basyarahil) meninggal dunia, bersama kedua kakaknya, ayah menjadi pelopor dari adik-adiknya. Bahkan, beban hidup ibu dan keluarga besar dia juga ikut menanganinya.

Sebagai sosok pengganti orangtua laki-laki, ayah berperan melindungi adik-adiknya dari pencemaran akidah. Sikap ini misalnya, ditunjukkan kepada adiknya, Azizah, ketika hendak  melanjutkan  ke SMP yang dikelola oleh pihak Katolik. Seusai tamat SD Al Irsyad, Azizah minta izin pada kakaknya, Abdul Aziz (ayah kami), untuk diperbolehkan melanjutkan ke sekolah Katolik. Ayah membolehkannya. Maka, bergiatlah Azizah mengurus segala keperluannya. Selesai. Semua persyaratan sudah dipenuhi, bahkan pihak sekolah sudah menerimanya sebagai murid baru.

Tiba giliran Azizah meminta uang untuk keperluan sekolah di SMP Katholik tersebut. Apa jawaban ayah ketika Azizah meminta uang untuk sekolah di SMP tersebut? “Boleh, tapi kamu berangkat ke sekolah naik kambing.” Blar. “Dia menolak secara halus, tapi tidak mematahkan semangat sejak awal. Baru setelah semuanya sudah beres, tinggal masuk, beliau menunjukkan sikapnya,” kenang Ibu Azizah. Sikap tersebut, tentu saja, dilandasai dengan kasih sayang pada adiknya. Karena ayah tidak ingin akidah adiknya tersebut tercemari atau terganggu karena pergaulan di sekolah yang dikelola dengan pendekatan agama lain itu.  Aku ingin pergi umroh bersama mu